Thursday, 24 May 2012

Cerpen - Perjalanan Sang Juara

Leave a Comment

Perjalanan Sang Juara
Oleh : Eka Darma Putra
Menjadi seorang pemain basket profesional adalah mimpiku sejak remaja. Aku sangat senang menyaksikan  pertandingan basket NBA di TV tetanggaku. Maklum, aku berasal dari keluarga yang ekonominya masih kurang dan tinggal dirumah yang sederhana. Aku tidak memiliki sepatu atau apapun yang bisa kupakai untuk bermain basket. Tapi inilah tantangan untuk ku dan memulai perjalanan menjadi sang juara.
“ Udin, cepat antarkan kue donat dan pisang goreng ini ke warung Bu Joko” suruh ibu sambil memasukan jajan-jajan tadi kedalam kotak.
“ Iya bu” sahutku kepada ibu.
Aku bergegas mengantarkan kue itu ke warung Bu Joko. Saat pulang dari mengantarkan kue ke warung Bu Joko, aku bertemu dengan sahabat karibku, Alex. Alex adalah teman dekatku sejak dibangku SD. Dia adalah pemain basket yang terkenal hebat dengan teknik basket yang bisa dikatakan luar biasa di sekolahku. Dia juga menjadi kapten tim basket sekolahku.
“ Hay Udin, Mau kemana loe?” sapa alex.
“ Aku mau back to home dulu, baru selesai nganter kue ke Bu Joko nih.” sahutku kepada Alex
“ Udin, gue mau ke lapangan basket sekarang, loe mau ikut ndak ?” tanya Alex lagi.
“Ok. Yuk cap-cus sekarang Lex.” Jawabku kepada alex sambil tersenyum.
Aku dan Alex segera menuju ke lapangan basket yang ada didaerah kompleks. Biasanya aku kesini jika aku ada waktu senggang ketika aku tidak sibuk membantu ibu ku untuk membuat kue. Maklum, ibuku adalah  single parents setelah ayahku meninggal karena sakit lever dua tahun yang lalu. Jadi ibuku berkerja keras untuk merawat dan membesarkan ku agar bisa menjadi sukses nantinya.
“ Din, mana sepatu loe?” Tanya alex sambil mendribel bola basket spalding kesayangannya.
“ Aku ndak punya sepatu, Lex. Jadi kalau aku main basket disini selalu nyeker” sahutku sambil menggaruk kepalaku.
“ Loe bisa minta sepatu gue,men. Kita kan sudah temenan lama. Gue ndak mau melihat teman gue kesusahan seperti ini. Sekarang kita ke rumah gue aja. Loe bisa milih sepatu gue yang loe mau dah. Gratis!!” kata Alex kepada ku sambil tersenyum. Maklum Alex adalah anak seorang pengacara yang sangat terkenal di kotaku. Jadi dia bisa membeli sepatu-sepatu basket dengan brand terkenal dengan gampangnya.
“ Tapi ndak apa jika aku mengambil sepatumu”
“ Jangan pikirin itu. Loe kan sudah best friend gue “
“ Terima kasih Alex” jawabku dengan semangat dan segera memeluk alex dengan eratnya. Aku tak bisa menyembunyikan perasaan bahagia ini. Sungguh Alex adalah Best friends ku. Aku sudah menganggap alex sebagai saudara ku sendiri. Persahabatan itu bagaikan kepompong ( itu sih kata orang-orang).
Segera aku dan Alex bergegas kerumah Alex yang ada di kompleks sebelah. Dalam perjalanan menuju TKP alias rumahnya Alex, aku menceritakan keinginanku untuk menjadi seorang pemain basket yang memiliki skill sama seperti Alex. Aku ingin berlatih basket dengannya dan bisa masuk tim basket disekolahku. Maklum, untuk bisa masuk menjadi anggota tim basket di sekolahku harus melalui seleksi yang ketat dan menghadapi teman-teman yang sudah memiliki kemampuan basket diatas rata-rata. Memang tim basket SMA ku adalah tim basket terhebat dikotaku bahkan sudah menjadi juara 2 basket tingkat nasional.
“Ok. Gue siap melatih loe asalkan loe serius untuk menekuni basket. Gue mau loe bisa masuk tim basket di sekolah. Siap ndak loe?”
“ Siap pak bos” jawabku dengan semangat. Saat itu, aku berkata dalam hatiku, inilah awal perjalanan sang juara. Awal untuk meraih semua mimpiku.
Setelah berbincang panjang lebar dengan Alex, tak terasa kita pun sampai di depan rumah Alex. Dari depan rumah Alex, aku bisa melihat kemegahan rumah Alex. Aku dan Alex segera menuju ke sebuah ruangan yang ternyata berisi koleksi sepatu dan peralatan basket dengan brand terkenal mulai dari luar negeri sampai dalam negeri. Wow, tak bisa kubayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membeli peralatan basket sebanyak ini.
“ Udin, Loe bisa pilih sepatu basket yang ada dilemari itu”
“Wow. Amazing” gumamku dalam hati. Aku melihat lemari itu penuh dengan sepatu basket yang terlihat begitu elegan. Aku sulit untuk menentukan pilihan, mana yang harus kupilih. Aku tidak ingin mengambil sepatu yang harganya terlalu mahal. Aku tidak mau menyusahkan Alex. Setelah lama aku mencari sepatu yang cocok untuk ku, aku menemukan sepatu League yang kuperkirakan sudah lama tidak digunakan oleh Alex karena warnanya yang sudah pudar dan di kulit sepatunya sudah terlihat robekan kecil. Tapi aku melihat sepasang sepatu yang sudah tak asing lagi buatku. Aku ingat, itu adalah sepatu dari pemain idolaku dari CLS Knight, Dimas Muhairi. Dalam hatiku, aku ingin sekali memiliki sepatu itu. Tapi, itu adalah sepatu kesayangan dari Alex. Aku tetap pada pilihan pertamaku.
“ Alex, aku ambil yang ini ya”
“ Loe ndak mau pilih yang lain. Kan masih banyak yang lebih bagus daripada sepatu nie. Sepatu gue kurang menarik ya buat loe”
“Ooh, n…….ndak. Aku Cuma ndak mau merepotkanmu” jawabku dengan rasa gugup.
“Ooh, kalau itu sudah pilihanmu. Gue ndak bisa melarangnya”
“Terima kasih Alex” seruku dengan perasaan yang tak bisa dikatakan dengan kata-kata.
Terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Ini bertanda aku untuk kembali kerumahku. Akupun berpamitan kepada Alex dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sepatu yang diberikan kepadaku. Aku merasa sudah seperti pemain basket asli dengan sepatu baruku ini. Walaupun ini hanya pemberian dari temanku tapi rasa syukur selalu kuucapkan kepada Tuhan atas apa yang telah diberikannya hari ini.
Esoknya, sepulang sekolah aku bergegas pulang kerumah untuk membantu ibuku untuk mengantarkan kue yang telah dibuatnya untuk diantarkan ke warung terdekat. Aku sangat bersemangat hari ini karena aku akan berlatih basket bersama Alex. Selesai membantu ibuku, aku langsung tancap gas menuju lapangan basket. Di lapangan basket aku sudah melihat Alex sedang melakukan slam dunk. Aku tercengang ketika melihat Alex melakukan itu. Sangat mengagumkan bagiku ketika aku bisa melakukan hal itu juga. Akupun bertekad agar aku bisa melakukan gerakan tersebut.
“Hay Alex. Ayo kita mulai latihannya sekarang.”
“Udin, kita pemanasan dulu biar ndak cedera gitu.”
Aku dan Alex segera melakukan pemanasan dengan berlari kecil mengitari lapangan basket ini. Pemanasan ini kujalani dengan serius agar tidak terjadi cedera. Selesai pemanasan, aku diajarkan teknik dasar bermain basket, mulai dari dribell bola sampai cara menembak bola yang baik dan benar. Aku berlatih bersama Alex selama 2 minggu lamanya. Dalam 2 minggu tersebut, aku sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Aku sudah bisa menguasai teknik dasar basket sampai teknik yang begitu rumit yang harus dipelajari berbulan-bulan lamanya. Alex pun terkejut dengan perkembanganku yang begitu pesat.
“ Udin, loe hebat banget. Loe cepat banget bisa main basketnya. Gue bisa kalah nih” kata alex sambil tersenyum kepadaku.
“Ini semua berkat kamu, Alex. Kalau ndak kamu, aku ndak mungkin bisa bermain basket sebagus ini. Tapi, masih hebatan kamu daripada aku.” Jawabku yang memuji kehebatannya dalam bermain basket. 
“ Ndak juga. Loe juga hebat kok. Udin, gue ada berita buat loe. Seminggu lagi ada seleksi pemain untuk DBL nanti. Loe harus iku ya.”
“Tapi, aku bukan anggota tim basket disekolah. Gimana saya bisa ikut?”
“Udah, jangan dipikirin. Nyantai aja. Nanti gue yang daftarin loe.”
“Yang bener? Terima kasih ya.”
Perasaan senang tak dapat tertahan lagi. Tapi, masih ada yang mengganjar dihatiku. Apa aku diijinkan untuk mengikuti seleksi tersebut. Aku kan bukan anggota tim basket disekolahku. Tapi, tak ada kata menyerah dalam hidupku. Hidup itu butuh perjuangan untuk mencapai keberhasilan.
Semalaman aku tak bisa tidur. Aku terus memikirkan tentang seleksi pemain basket untuk DBL nanti. Aku berharap bisa diijinkan dan bisa menjadi bagian dari tim. DBL ini adalah ajang tahunan yang sangat bergengsi bagi setiap sekolah yang mengikuti turnamen ini. Besar harapanku untuk bisa mengikuti turnamen ini. Tapi, aku harus menunggu kabar dari Alex terlebih dahulu. Intinya adalah tetap bersabar.
Esoknya, aku degdegan menanti kabar dari Alex. Aku cepat-cepat mencari Alex. Tapi, aku sudah mencarinya sampai keliling sekolah. Sayangnya, itu belum membuahkan hasil. Aku pun mulai bingung. Dimanakah kamu Alex? Akupun bertanya kepada teman-teman dekatnya, tapi tidak ada yang tahu dia dimana. Aku pun mengecek ke kelasnya dan aku bertemu dengan Rudi yang tak lain adalah teman satu tim Alex.
“ Rudi, kamu dapat liat Alex?”
“Loh. Loe ndak tau ya kalau kabar tentang alex ,ya. Kemarin dia masuk rumah sakit.”
“ Kenapa?”
“Dia kena serangan tomcat. Gimana sih loe.Loe kan teman dekatnya Alex seharusnya loe tau dong tentang keadaan teman loe sendiri.”
“Soalnya aku belum dapat ketemu sama Alex.”
“Ooh….Jadi sekarang loe gitu sama teman sendiri. Gue denger dari pelatih loe mau ikut seleksi ya?”
“Aku belum tau. Soalnya belum ada kabar dari Alex. Aku cari Alex sebenarnya mau menanyakan soal ini.”
“ Ooh… gitu ya. Jadi loe lebih mementingkan seleksi ini daripada Alex. Loe sudah ndak peduli dengan Alex sekarang. Kamu jahat banget. Habis manis sepah dibuang” umpat Rudi kepada dengan tatapan murka seperti baru tersulut api yang begitu panas.
“Bukan begitu sobat. Aku sebenarnya belum tau apakah aku diijinkan untuk megikuti seleksi ini atau tidak. Hanya Alex yang tau tentang hal ini. Maka dari itu aku mau mencari Alex. Janganlah kita memperumit masalah ini. Aku dan Alex adalah best friend sejak kecil. Aku tak akan sanggup melihat temanku dalam keadaan sakit seperti itu.”
“Sorry. Aku marah-marah ndak jelas sama loe. Sekali lagi, gue minta maaf ya.”
“Aku juga Rudi. Maaf kalau aku membuat kamu naik pitam sekarang”
“Ya, tak apalah. Jangan dipikirkan tentang hal tadi. Tadikan loe mau nanya ma Alex kan, apa loe diijinkan untuk ikut seleksikan?”
“Ya, apa kamu tau tentang hal itu?”
“Kemarin Alex bilang ma gue, kalau loe bisa ikut seleksi tim untuk DBL nanti.”
“Itu benar? Kamu ndak bohong kan?”
“Ya, itu benar.”
Aku sangat senang mendengar hal tersebut. Aku bersyukur kepada Tuhan karena telah mengabulkan doaku. Aku harus bertemu dengan Alex untuk mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Aku juga berterima kasih kepada Rudi. Sepulang sekolah aku menuju rumah sakit tempat Alex dirawat. Sesampainya dirumah sakit aku langsung mencari kamar tempat Alex dirawat. Akhirnya aku menemukan kamar tempat Alex dirawat. Di dalam kamar, aku melihat Alex terbaring lemas sambil ditemani ibu dan ayahnya. Aku langsung masuk kedalam dan menyapa orang tua Alex.
“Selamat siang, om.” Sapaku kepada Ayah Alex.
“Siang. Ooh Udin…Ayo masuk. Mau jenguk Alex ya?”
“Iya om.”
Ayah Alex pun mempersilahkanku untuk menemui Alex. Beliau bersama istrinya meninggalkan kami berdua dikamar. Beliau menyuruh saya untuk menjaga Alex sebentar.
“Om tinggal dulu ya. Om mau ketemu sama dokter dulu. Udin tolong temani Alex dulu ya.”
“Siap, om!!!”
Akupun langsung mengajak ngobrol Alex. Aku tanyakan kenapa dia bisa terkena serangan tomcat. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada Alex karena dia bisa merayu pelatih tim basket sekolahku yang terkenal galak dan judes itu sehingga aku bisa mengikuti seleksi untuk DBL seminggu lagi. Diapun tertawa dan berkata kepadaku bahwa inilah arti persahabatan. Kita harus saling tolong-menolong dan melengkapi satu sama lain. Setelah berbincang lama dengan Alex dan orang tua Alex pun sudah kembali, aku segera berpamitan kepada Alex dan orang tuanya.
Dalam perjalanan pulang, aku berpikir siapa yang akan melatihku sekarang. Tapi, tak ada kata menyerah untuk menjadi seorang juara. Aku harus berlatih sendiri. Aku tak ingin membuat Alex susah. Walaupun tanpa dia, aku bisa berlatih semampuku. Selama 5 hari aku berlatih sendiri. Dengan semangat juang 45 aku berlatih tanpa kenal lelah. Walaupun pengetahuanku tentang basket tak sehebat Alex, Aku hanya melatih kembali apa yang telah diajarkan oleh Alex kepadaku.
Seleksi pemain pun akan dilaksanakan nanti sore. Aku harus mempersiapkan tenaga dan mental untuk mengikuti seleksi pemain nanti. Ketika aku mau berangkat, tiba-tiba aku melihat ibuku jatuh pingsan. Aku segera membawa ibuku ke puskesmas terdekat. Aku menunggu dengan cemas hasil pemeriksaan dari dokter. Aku juga memikirkan apakah aku bisa mengikuti seleksi bila keadaan ibuku yang masih terbaring lemas dikasur. Aku tak mungkin meninggalkan ibuku sendirian, tapi bila aku melewatkan kesempatan untuk bisa menjadi tim inti DBL sekolahku, itu merupakan suatu kerugian buatku. Aku sangat bingung sekarang. Mana yang harus kupilih, apakah aku harus diam disini atau megikuti seleksi yang kutau belum tentu aku bisa lolos. Tapi aku membuat keputusan aku harus diam disini dan menunggu ibuku sampai keadaannya kembali normal. Dengan terpaksa aku harus melepas kesempatan emasku yang tak mungkin datang untuk kedua kalinya. Perjuanganku berlatih keras tanpa kenal lelah akan terbuang sia-sia. Tapi ini demi ibuku. Aku tidak ingin menjadi anak yang durhaka.
“Udin anakku” panggil ibuku yang membuat aku terkejut.
“Ooh ibu. Ibu sudah bangun ya. Ibu sudah sehat?”
“Ibu sudah baikan. Kamu belum berangkat kesekolah. Kamu bilang sekarang ada seleksi pemain basket.”
“Tapi aku tak bisa meninggalkan ibu dalam kondisi seperti ini. Aku akan menunggu ibu disini sampai ibu sudah sehat kembali.”
“Tidak nak. Kamu harus menggapai mimpi yang telah ada didepan matamu. Ibu tidak ingin melit kamu sedih jika kamu gagal meraih kesempatan emas menjadi pemain basket yang hebat. Cepat, kesekolah sekarang. Kejar mimpimu yang sudah ada didepan matamu. Selangkah lagi kamu akan menjadi sang juara.”
“Tapi ibu.”
“Cepatlah nak. Biar ibu pulang kerumah sendiri. Ayolah Din.”
“Baiklah bu. Terima kasih. Aku tak akan mengecewakan kepercayaan yang telah diberikanibu.”
Aku langsung menuju sekolah dengan tergesa-gesa. Aku harus bergegas agar tidak terlambat. Untunglah aku belum terlambat. Seleksi baru dimulai 10 menit kemudian. Dalam seleksi ini aku begitu bersemangat. Aku mengeluarkan seluruh kehebatanku agar bisa menjadi salah satu bagian dari tim inti sekolahku. Semangat yang membara bagaikan bertempur di medan perang. Seleksi pun selesai. Aku tinggal menunggu hasil seleksi tadi. Jantungku berdebar-debar menunggu hasil seleksi tadi. Aku berharap sekali agar bisa lolos seleksi ini. Saat yang di tunggu-tunggu pun tiba. Pelatih membacakan 12 pemain yang akan dibawa ke turnamen DBL 1 minggu lagi. Dari nomor pertama sampai sekarang nomor 11 yang dibacakan, aku belum mendengarkan namaku disebutkan oleh pelatih. Aku hanya mendengar nama Alex dan Rudi didalamnya dan itupun sudah pasti karena mereka adalah tumpuan utama didalam tim ini. Sekarang sudah sampai di nomor terakhir alias nomor 12. Aku berharap namaku ada di urutan ini.
“Udin, kamu lolos menjadi 12 pemain yang akan dibawa ke DBL nanti.” Kata pelatih.
Mendengar hal tersebut, akupun bersujud dan bersyukur kepada tuhan karena aku bisa lolos menjadi 12 pemain yang akan dibawa ke DBL nanti. Terima kasih Tuhan, karena engkau telah mengabulkan doaku. Akupun berjanji untuk tampil semaksimal mungkin dan berusaha untuk menjadi starting five didalam tim nanti.
Sebulan telah berlalu, setelah tim kami berhasil menjadi juara DBL untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Sekarang aku sudah di Amerika bersama tim DBL Indonesia untuk mengikuti kejuaraan basket tingkat dunia. Tapi sayangnya Alex tak bisa bersamaku sekarang. Dia menolak tawaran untuk menjadi salah satu pemain tim DBL Indonesia ke kejuaraan ini. Dia ingin agar aku saja yang bisa ikut mewakili Indonesia di ajang ini, karena dia ingin aku bisa menggapai mimpiku untuk menjadi pemain basket terkenal didunia. Alex lebih memilih fokus untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang businessman yang terkenal.  Itulah alasannya melepas kesempatan emas ini. Mungkin itu sudah pilihan yang terbaik baginya. Aku sangat senang bisa memiliki sahabat seperti Alex. Alex, jasamu sangat berharga bagiku karena telah membantuku untuk meraih impianku menjadi pemain basket yang hebat. Meraih impian menjadi sang juara karena inilah perjalanan sang juara. 

0 comments:

Post a Comment