Tuesday, 22 May 2012

Sinopsis Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2!

Leave a Comment


Judul                          : Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2!
Pengarang                  : Ajahn Bhram                                             
Penerbit                      : Awareness Publication
Tahun Terbit             : 2011, Cetakan ke-14
Jenis Buku                 : Non-Fiksi
Jumlah Halaman       : 340 halaman           
  
            Buku ini adalah sekuel kedua buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”. Buku yang syarat akan makna kehidupan ini ditulis oleh Ajahn Bhram, Seorang biksu budha yang kini tinggal di wihara Bodhinyana, Australia. Melalui 108 (lagi!) cerita yang akan menyentuh jiwa, Ajahn Bhram mengajarkan kita untuk menyikapi kerentanan raga, perubahan, noda batin dengan cinta tanpa ego, damai tanpa syarat, menjadi pribadi yang arif dan memiliki hati bebas lepas. Tidak heran Majalah Spirituality dan Health di amerika mengomentari buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” sebagai salah satu buku spiritual terbaik.
            Semua kisah-kisah dalam buku ini dituturkan dengan kocak dan jenaka tanpa maksud menggurui siapapun. 108 ceritanya merupakan kumpulan dari kisah hidup Ajahn Bhram, Buku Psikologi, Cerita dalam berbagai Kitab, Kisah Legenda Lisan, dan Kisah dari orang-orang yang datang untuk berkonsultasi dengannya. Sosok cacing digunakan untuk menggambarkan bebera[a kisah dalam buku ini. Cacing sendiri adalah perumpamaan untuk kita sebagai manusia.
            Pada bagian pertama mengisahkan tentang “Raga Yang Rentan”. Setiap kehidupan kita akan selalu dihadapi dengan penyakit, rasa sakit, permasalahan, dan bahkan kematian. Salah satu kisah yang menarik adalah “Berdamai dengan Sakit”. Ada seorang pemuda Australia yang bekerja di pertambangan sebagai kuli ledak. Sangat berbahayanya pekerjaan itu sehingga dia harus mengejakan pekerjaannya sendiri. Tapi saat dia hendak memicu bahan peledak, sebuah kereta tambang meluncur dari arah belakang pemuda tadi. Seseorang rupanya lupa memasang rem pada kereta itu. Pekerjaan memasang peledak dilakukannya dengan rapi sehingga tidak ada tempat baginya untuk melompat. Kereta itu menghantamnya tanpa bisa ia hindarkan.
            Ia terlempar jauh dan tidak bisa merasakan kakinya lagi, rupanya kakinya telah terputus saat tertabrak, semalaman pemuda ini berada di area tambang karena tidak ada seorangpun di sana sampai akhirnya ditemukan pada keesokan harinya. Ia dibawa kerumah sakit dan tetap bertahan hidup. Orang yang rupanya lupa memasang rem kereta tampak mondar-mandir di selasar rumah sakit, pekerja itu takut masuk karena merasa begitu bersalah. Ia memanggil pekerja itu,“Tidak apa-pa. Tidak masalah sama sekali. Malah aku ingin berterimakasih karena kamu memberikan pengalaman yang menakjubkan itu”. Hal ini begitu mengejutkan pekerja yang lalali ini. Ia bukannya masuk malah melarikan diri.
            Pekerja tambang ini berterima kasih kepada pekerja yang lalai tadi karena telah memberinya pengalaman yang senilai dengan sebuah kaki, pengalaman melepas. Begitulah kadang kita bisa menghadapi penyakit, dengan melepas! Berdamailah dengan penyakit itu, selidikilah, dan amatilah. Jika tidak sembuh dan membawa kematian, itu tidak masalah karena disinilah kita akan mengerti mengenai kehidupan dan cara memaknainya.
            Di bagian tengah buku kita akan menemukan sub-bab ke-5 yang berjudul “Batin Keliru Tahu”. Bagian ini akan membantu kita belajar bahwa persepsi kita seluruhnya dikendalikan oleh pandangan individual, hingga sering kali kita tidak melihat kebenaran, melainkan melihat hal yang ingin kita lihat. Kita akan tahu mengenai cara kerja batin kita yang kadang salah mengambil keputusan. Salah satu cerita yang mencakup isi keseluruhan sub-bab ini adalah “Kerugian Harvard”.
            Suatu hari, seorang nyonya pergi ke universitas Harvard memakai pakaian bermotif gingham pudar dan suaminya menggunakan jas rajutan rumahan. Tanpa membuat janji terlebih dahulu mereka ingin bertemu dengan Presiden Universitas Harvard. Awalnya sekertaris sang presiden tidak ingin memberikan izin pada mereka. Akan tetapi, karena pasangan ini bertekat untuk menunggu, sekertaris inipun menyerah dan menghantarkannya kepada sang presiden.
            Saat bertemu, presiden terkesan ketus dan tidak perduli. Seseorang dengan status tinggi jelas tidak punya waktu untuk berurusan dengan tamu semacam ini. Mulanya nyonya itu berkata bahwa anaknya pernah bersekolah di Harvard setahun dan sungguh mencintai bersekolah di Harvard. Tetapi, setahun yang lalu anaknya meninggal dan si nyonya ingin mendirikan sebuah monumen untuk mengenang anaknya di Harvard. Sang presiden dengan cepat menolak karena ia tidak ingin universitasnya menjadi seperti kuburan. Si nyonya buru-buru menjelaskan kembali bahwa dia ingin mendirikan gedung, tapi tetap saja ditolak. Sang presiden ragu dan dia menjelaskan telah menginvestasilan 7,5 juta dolar untuk membangun Harvard.
            Untuk sesaat nyonya itu terdiam, sang presiden lega karena dapat mengusir pasangan ini sekarang. Nyonya itu kemudian berbisik pada suaminya, “Jika cuma segitu biayanya, kenapa kita tidak mendirikan universitas sendiri saja?” Suaminya mengangkuk dan mereka melangkah keluar dari sana. Wajah presiden Harvard mengerut bingung dan kecut. Tuan dan Nyonya Leland Stanford lalu pergi ke Palo Alto, California, tempat mereka mendirikan universitas yang kemudian dikenal dengan nama Stanford University, sebagai institusi untuk mengenang putra mereka. Presiden Universitas Harvard melakukan kekeliruan akibat keburu menghakimi pasangan itu. Dia tidak mau berhati-hati dengan penilaian dan persepsinya.
            “Hati Bebas Lepas” adalah bagian terakhir dari sekuel ini. Disini banyak dikulas mengenai cara kita untuk menjadi jiwa yang tenang dan bahagia. Kita dapat belajar cara untuk menerima kenyataan yang ada di dunia ini. Selain itu, kita akan tau bahwa apa yang kita inginkan tidak akan terjadi karena mungkin saja yang terjadi justru sebaliknya. Inilah sebab kenapa masa depan itu tidak pasti. Jadi bagaimana cara kita menghadapi ketidakpastian ini yaitu dengan hati yang bebas lepas.
            Cerita yang menarik adalah cerita ke-108 dengan judul Ketika Semuanya Terbakar yang juga menjadi cerminan sampul buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2!” ini. Pada 30 januari 1991 wihara Ajahn Bhram di Serpentine terlanda kebakaran hutan besar-besaran. Saat itu suhunya sangat panas mencapai 49o celcius. Suhu panas inilah yang memicu kebakaran hutan hingga melanda wihara Bodhinyana (nama wihara Ajahn Bhram). Seluruh wihara diselubungi api, bara, dan asap. Ajahn Bhram dan biksu-biksu yang lain berada di sana saat itu. Mereka melakukan penanggulangan sebisa mereka sampai petugas pemadam kebakaran datang.
            Para biksu telah siap menghadapi kondisi seperti ini, tapi yang panik justru para petugas pemadam kebakaran. Mereka mengevakuasi para biksu saat api sedang mulai merambat. Untungnya para biksu berhasil dievakuasi ke tempat yang aman. Sesampainya di tempat evakuasi, Ajahn Bhram diwawancarai oleh reporter sebuah stasiun televisi di Australia. Sang pewawancara heran karena melihat Ajahn Bhram yang tidak tampat takut. Sebenarnya itu hanya berkat latihan sebagai biksu. Beberapa hari kemudian serombongan mahasiswa datang untuk studi trauma, namun mereka kecewa karena setiap pertanyaan mereka mengenai trauma dijawab “tidak” oleh para biksu.
            Ajah Bhram sendiri merenungi peristiwa ini setelah berhasil dievakuasi. Dia tau usahanya bertahun-tahun untuk membangun Wihara Bodhinyana akan terbakar habis dan hilang. Ajahn Bhram akan kehilangan banyak hal dan ada banyak hal berharga di wihara itu. Ajahn Bhram akhirnya belajar cara berdamai dan melepas. Tetapi, saat api padam, saat mereka kembali ke wihara, bangunan wihara masih berdiri. Inilah kadang kekuatan yang hanya bisa kita dapatkan sesekali.
            Ajahn Bhram dan para biksu lainnya belajar dari pengalaman ini, bagaimana membuat wihara mereka lebih aman. Jadi mereka tidak melihat trauma masa lalu sebagai sesuatu yang terus menghalangi mereka. Mereka belajar dari peristiwa ini dan kadang mereka seakan menanti peristiwa itu datang, sebab semua peristiwa buruk adalah bagian dari hidup. Ketika hal-hal itu terjadi, kita harus menerimanya sebagai bagian dari alam dan kehidupan.
            3 kisah di atas adalah sebagian kisah yang terdapat dalam buku ini. Masih ada 105 cerita inspiratif penuh warna yang akan membantu anda belajar untuk memaknai hidup dan memotivasi anda untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.

0 comments:

Post a Comment